
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen Suharyanto melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan mulai membaik pada pertengahan Oktober 2026 ini. Ia menyebutkan, hujan alami akan segera turun pada periode tersebut sehingga kebakaran yang terjadi bisa lebih mudah dipadamkan.
“Paling tidak di bulan Oktober ini, mudah-mudahan nanti begitu prediksi BMKG sudah mulai turun hujan alami di pertengahan Oktober sampai dengan November dan selanjutnya, setelah musim hujan turun tentu saja kondisi karhutla akan lebih baik,” ujar Suharyanto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (12/10/2026). Baca juga: Padamkan Karhutla Tanjung Puting, Prabowo Gelontorkan Rp 2 Miliar untuk Sumur Bor Meski begitu, Suharyanto mengeklaim bahwa BNPB tetap bekerja keras mengerahkan segala kemampuan untuk mengatasi karhutla.
Meski begitu, Suharyanto mengeklaim bahwa BNPB tetap bekerja keras mengerahkan segala kemampuan untuk mengatasi karhutla. Selanjutnya, ia memaparkan update terkait karhutla di enam provinsi prioritas, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau.
“Untuk hari ini, yang terbakar yang masih ditangani oleh satgas di lapangan jumlahnya adalah 639,23 hektar. Yang terbesar memang terjadi di Kalimantan Tengah. Kenapa paling besar? Karena baru saja ditemukan kebakaran baru di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan,” kata Suharanto. Suharyanto menyebutkan, 513 dari 639 hektar lahan yang terbakar terpusat di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.
Dia menekankan ada penambahan pasukan dan peralatan satgas darat untuk mengatasi karhutla di sana. “Sementara untuk satgas udara kami sudah coba bergerak, baik dari Palangkaraya, Tjilik Riwut, maupun dari Syamsudin Noor, Banjarmasin, sementara belum tembus karena visibility yang sangat tebal.
Dan di Kalimantan Tengah ini, operasi-operasi udara, baik heli water bombing, operasi modifikasi cuaca maupun pesawat komersial sementara tidak dapat terbang karena visibility yang rendah,” kata Suharyanto. Sementara itu, Suharyanto menyampaikan, masih ada dua provinsi yang kondisi karhutla-nya cukup berat, yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, sedangkan karhutla di daerah lain lebih mudah dipadamkan.
“Kemudian juga untuk di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan, ini tetap kami masih menitikberatkan pada operasi darat. Karena Kalimantan Tengah khususnya, tadi kami laporkan bahwa untuk heli water bombing ini sudah hampir seminggu lebih tidak bisa terbang karena visibility rendah,” ujar dia.
