Sebuah platform global baru untuk menarik investasi, menghimpun modal, dan menjalin kemitraan ekonomi dijadwalkan meluncur pada 3–4 Desember di Bali, Indonesia.
Bertajuk New Asia Forum edisi perdana, acara ini membidik target investasi sebesar US$30 miliar guna mempertemukan modal jangka panjang dengan berbagai peluang yang siap membentuk arah perkembangan Asia dalam satu dekade mendatang.
Kehadiran forum ini dilatarbelakangi oleh pergeseran pusat pertumbuhan ekonomi dunia ke Asia. Berbagai negara di kawasan tersebut terus menunjukkan perkembangan pesat yang ditopang oleh kemajuan teknologi, peningkatan investasi, dan penguatan keterhubungan ekonomi. Data Dana Moneter Internasional (IMF) tahun 2025 menunjukkan bahwa Asia Pasifik menyumbang hampir 60% terhadap pertumbuhan ekonomi global.
Meski demikian, kontribusi masif tersebut belum sepenuhnya diimbangi oleh aliran investasi internasional jangka panjang. Kondisi inilah yang coba dijembatani oleh New Asia Forum sebagai wadah penghubung antara sumber permodalan global dan potensi investasi konkret di kawasan.
Berbeda dari konferensi pada umumnya, forum ini dirancang berorientasi hasil untuk mendorong realisasi transaksi investasi, mobilisasi modal, dan eksekusi proyek secara nyata. Target komitmen US$30 miliar itu nantinya akan ditopang oleh portofolio peluang investasi yang telah dikurasi secara ketat.
Para peserta—yang terdiri atas kepala negara, menteri, investor institusional jangka panjang, dan pemimpin perusahaan global—diharapkan dapat mempercepat proses menuju kesepakatan bisnis di delapan sektor strategis.
Kedelapan sektor tersebut meliputi sumber daya strategis dan hilirisasi, energi dan ketenagalistrikan, mobilitas dan manufaktur, infrastruktur digital dan kecerdasan buatan (AI), pangan, perdagangan, serta pariwisata dan pendidikan.
Rangkaian diskusi dalam forum akan berfokus pada berbagai faktor krusial yang memengaruhi realisasi investasi, mulai dari tingkat kesiapan proyek dan kepastian regulasi hingga skema pembiayaan serta kemitraan strategis. Selain itu, penyelenggara berkomitmen memantau perkembangan komitmen investasi secara berkala dari satu penyelenggaraan ke penyelenggaraan berikutnya.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa forum ini dirancang untuk menyelaraskan modal global jangka panjang dengan lanskap investasi yang berkembang di Indonesia dan kawasan sekitar.
“Sebagai sovereign investor Indonesia sekaligus mitra pendiri forum ini, Danantara Indonesia mengajak para mitra untuk bersama-sama membuka peluang tersebut,” ujarnya.
Pandangan senada disampaikan oleh Founder dan Chairman Richard Attias & Associates, Richard Attias. Menurutnya, dalam beberapa dekade terakhir, Asia umumnya dipandang sekadar sebagai destinasi penanaman modal global, namun narasi tersebut kini bergeser drastis.
“New Asia tidak hanya akan menarik modal, tetapi juga semakin mampu menciptakan, mengarahkan, dan menentukan ke mana modal tersebut dapat memberikan dampak terbesar. Kita sedang memasuki salah satu siklus investasi terpenting dalam generasi kita, and Asia berada di pusatnya,” kata Richard.
Penyelenggaraan perdana New Asia Forum dirancang sebagai pertemuan eksklusif berbasis undangan yang menghadirkan lebih dari 1.000 pemimpin, lebih dari 100 pembicara, serta lebih dari 40 sesi diskusi selama dua hari. Lebih dari sekadar konferensi tingkat tinggi di Bali, forum ini diproyeksikan menjadi jangkauan berkelanjutan yang menghubungkan investor secara langsung dengan ragam peluang strategis di lapangan. (*)
Source : https://swa.co.id/read/478312/bali-jadi-tuan-rumah-new-asia-forum-bidik-komitmen-investasi-us30-miliar
