
Badan Gizi Nasional (BGN) mengklaim program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak pada pemenuhan kebutuhan pangan anak sekolah. Berdasarkan data penelitian yang dimiliki BGN, persentase siswa berangkat sekolah dalam keadaan lapar turun dari 56 persen menjadi 16 persen setelah program berjalan.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan penurunan tersebut menjadi salah satu indikator dampak pelaksanaan program MBG yang merupakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
“Alhamdulillah, dengan adanya program MBG ini, dari 56 persen peserta didik yang berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar, turun 50 persen menjadi 16 persen,” kata Sudaryono dalam keterangannya
Sudaryono mengatakan pihaknya menargetkan tidak ada lagi siswa yang berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar. BGN disebutnya berupaya memastikan program MBG berjalan optimal dan menjangkau seluruh sasaran. Satu Sendok sebelum Tidur, Turunkan 15 Kg hanya dalam 2 Minggu!
“Kami berharap angka ini bisa terus turun hingga nol, sehingga tidak ada lagi anak-anak yang berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar,” ujarnya.
Selain mengurangi angka siswa yang berangkat sekolah dalam kondisi lapar, BGN juga mencatat peningkatan konsumsi protein hewani pada anak. Berdasarkan data yang disampaikan, konsumsi protein hewani meningkat dari 26 persen sebelum program menjadi 84 persen setelah MBG berjalan.
Sudaryono menyebut masih ada 16 persen anak yang berada di wilayah yang belum tersentuh program MBG. Ia mengatakan, BGN akan berupaya agar seluruh anak bisa segera memperoleh makanan bergizi di sekolah.
“Jadi, konsumsi protein hewani anak-anak kita meningkat dari 26 persen menjadi 84 persen. Masih ada 16 persen anak-anak yang wilayahnya belum tersentuh MBG. Ini menjadi tanggung jawab kami agar mereka sesegera mungkin mendapatkan haknya, yaitu makanan bergizi gratis di sekolah masing-masing,” tuturnya.
BGN juga mencatat peningkatan konsumsi buah dan sayur pada peserta didik. Angkanya disebut naik dari 65 persen menjadi 90 persen setelah program MBG berjalan.
Meski demikian, pemenuhan gizi anak tidak hanya bergantung pada makanan yang tersedia di sekolah. Edukasi mengenai pola makan sehat dan gizi seimbang juga diperlukan agar anak terbiasa mengonsumsi makanan beragam, termasuk buah dan sayur.
Karena itu, Sudaryono menekankan pentingnya peran guru dan orang tua dalam memberikan pemahaman mengenai kebutuhan gizi anak, sehingga kebiasaan makan sehat dapat diterapkan baik di sekolah maupun di rumah.
