Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengeklaim pemerintah telah mencapai swasembada untuk delapan komoditas pangan dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Komoditas tersebut mencakup kebutuhan pangan untuk konsumsi maupun pakan.
Zulhas mengatakan sejumlah komoditas yang sebelumnya masih mengandalkan pasokan dari luar negeri kini telah mampu dipenuhi melalui produksi lokal. Ia menyebut beras, jagung, gula, garam, telur, dan ayam dalam capaian swasembada yang disampaikan pemerintah.
“Pangan kita sudah berhasil swasembada di 8 komoditas untuk pakan. Beras sudah penuh swasembada. Jagung untuk pakan dan makan. Kemudian gula untuk makan, itu kita sudah bisa sendiri. Yang tadinya impor semua, sekarang bisa sendiri,” ujar Zulhas dalam acara 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kerja Nyata Melanjutkan Asta Cita yang diselenggarakan Metro TV di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
Komoditas untuk Industri Masih Diimpor
Meski sejumlah komoditas telah mencapai swasembada, Zulhas mengakui impor masih diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dengan spesifikasi tertentu, terutama bagi sektor industri.
Ia mencontohkan gula, garam, dan jagung yang digunakan untuk kebutuhan industri masih didatangkan dari luar negeri. Pemerintah, kata dia, masih berupaya meningkatkan kemampuan produksi domestik untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Untuk industri seperti gula belum bisa. Garam juga ada untuk industri, itu kita belum bisa, masih kita impor. Ini yang masih kita kejar,” jelas Zulhas.
Selain capaian produksi pangan, Zulhas menyoroti perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP). Ia menyebut indikator tersebut meningkat dari 116 menjadi 131.
Kenaikan NTP tersebut dinilai mencerminkan perbaikan kondisi ekonomi petani. Meski demikian, Zulhas menilai capaian tersebut masih perlu diperkuat melalui peningkatan produktivitas dan modernisasi sektor pertanian.
“Nilai tukar petani sudah naik dari 116 sekarang 131, artinya makmur. Itu kita anggap berhasil. Tapi belum yang kokoh. Kita lagi mengembangkan varietas baru padi agar produktivitas tinggi, juga manajemen pertanian modern dan mekanisasi,” tegas Zulhas.
Pemerintah juga tengah mengarahkan perhatian pada sektor kelautan dan perikanan melalui peningkatan Nilai Tukar Nelayan (NTN). Zulhas menyebut posisi NTN saat ini masih berada di angka 103, jauh di bawah NTP.
Pemerintah menargetkan NTN dapat meningkat hingga 120 pada tahun depan. Upaya tersebut menjadi salah satu agenda yang masih dikejar pemerintah.
“Yang on progress itu nelayan. Tugas kita tahun ini dan tahun depan kita bangun besar-besaran agar nilai tukar nelayan 103. Bayangin, padi sudah 131, nelayan masih 103, jauh sekali. Ini kita akan kejar tahun depan 120,” ujar Zulhas.
Zulhas juga mengungkapkan rencana pemerintah memperkuat aktivitas ekonomi di wilayah perdesaan. Salah satu upayanya dilakukan melalui pembangunan Koperasi Desa dan Koperasi Nelayan Merah Putih.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi di desa sehingga aktivitas ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di wilayah perkotaan. Pemerintah juga mengaitkan langkah tersebut dengan upaya menekan arus urbanisasi.
“Kita ingin memperkuat basis pusat pertumbuhan di desa-desa, tidak hanya kota, agar mencegah urbanisasi. Kita belajar dari Jepang yang desa-desanya kosong. Kita bangun pusat pertumbuhan ekonomi melalui Koperasi Desa dan Koperasi Nelayan Merah Putih,” tutup Zulhas.
