Institute for Development of Economics and Finance (Indef) meyakini kehadiran Danantara sebagai instrumen akan memberikan dampak signifikan dan berkelanjutan terhadap perekonomian nasional, khususnya melalui peningkatan produktivitas dan akumulasi modal jangka panjang.
Optimisme ini muncul menyusul diperkenalkannya Danantara oleh Presiden RI Prabowo Subianto dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, pada Kamis (22/1/2026).
Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, mengatakan Danantara dirancang sebagai dana abadi pemerintah untuk membiayai sektor strategis seperti pendidikan, ketahanan pangan, dan inovasi melalui imbal hasil investasi berkelanjutan, bukan pembiayaan rutin dari APBN. Skema ini diharapkan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
“Reformasi berbasis Danantara menunjukkan dampak positif terhadap indikator makroekonomi. Produk domestik bruto (PDB) tercatat meningkat tajam pada fase awal reformasi, mencapai hampir 3% di atas baseline, dan dalam jangka panjang berangsur stabil di kisaran 2%, mencerminkan efek pertumbuhan yang persisten,” ungkapnya dilansir dari Antara.
Pertumbuhan tersebut terutama didorong peningkatan stok kapital, penurunan pajak modal, dan kenaikan produktivitas, sehingga akumulasi modal mendekati puncak 3%. Dari sisi konsumsi, Indef mencatat konsumsi agregat meningkat secara bertahap hingga 1,5% seiring kenaikan pendapatan riil dan produktivitas, meski dalam jangka pendek terjadi penyesuaian konsumsi akibat realokasi sumber daya menuju investasi produktif.
Tenaga kerja tercatat mengalami penurunan moderat sekitar 0,8% akibat efek substitusi kerja–leisure, ketika peningkatan produktivitas dan upah riil memungkinkan rumah tangga memiliki fleksibilitas alokasi waktu lebih besar. Meskipun demikian, Indef menilai dinamika tersebut tidak mengganggu kinerja ekonomi karena pertumbuhan bersifat productivity driven.
Peningkatan total factor productivity (TFP) mendorong kenaikan produktivitas marjinal tenaga kerja, yang diterjemahkan menjadi upah riil lebih tinggi. Produktivitas yang meningkat juga memperbesar pendapatan dan keuntungan perusahaan, sehingga dunia usaha dapat memberikan kompensasi lebih baik. Dalam pasar tenaga kerja kompetitif, perusahaan terdorong menawarkan upah lebih tinggi untuk mempertahankan tenaga kerja terampil.
Esther menegaskan, manfaat Danantara sangat bergantung pada kualitas tata kelola, seleksi proyek, dan disiplin fiskal. Indef juga menyoroti pentingnya kebijakan pelengkap untuk mengelola dampak distribusional antar kelompok pendapatan.
“Program sosial terarah seperti makan bergizi gratis (MBG) dapat meredam dampak jangka pendek sekaligus memperkuat legitimasi reformasi,” tuturnya.
