Pemerintah Indonesia menyiapkan berbagai skenario terkait potensi kehadiran Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) di New York, Amerika Serikat, pada akhir September.
“Kami mempersiapkan berbagai skenario, tetapi tentu dari segi substansi, semua persiapan tetap berjalan dan ini terus dimatangkan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Vahd Nabyl A. Mulachela di Kantor Kemlu RI, Jakarta, Kamis.
Nabyl mengatakan Pemerintah terus mematangkan berbagai persiapan substansi yang akan dibawa Indonesia dalam forum tahunan tersebut.
“Kami juga melibatkan berbagai latihan juga untuk menyiapkan substansinya,” tambahnya.
Namun demikian, terkait kepastian tingkat kehadiran Presiden Prabowo dalam UNGA tahun ini, Nabyl belum dapat memberikan konfirmasi.
“Nanti mengenai konfirmasi tingkat kehadiran, tentu akan kami umumkan secara resmi dalam waktu dekat,” katanya.
Sementara itu, terkait berbagai isu yang akan disampaikan Indonesia dalam UNGA tahun ini, Nabyl menyampaikan Pemerintah Indonesia akan melihat terlebih dahulu melihat tema besar UNGA.
Selain tema besar, Pemerintah juga akan mempertimbangkan berbagai perkembangan yang terjadi selama setahun terakhir untuk menentukan isu yang akan ditonjolkan dalam pertemuan tersebut.
“UNGA ini kan adalah sebuah event yang berjalan tahunan, biasanya dimanfaatkan untuk meriviu perkembangan dari setahun terakhir, apa saja yang kira-kira progresnya sudah berjalan, apa saja kira-kira yang baru terjadi, dan di situlah kami akan meng-highlight dalam pertemuan tersebut,” ujar Nabyl.
Sidang ke-81 Majelis Umum PBB resmi dibuka di New York, Selasa (8/9). Menlu Bangladesh Khalilur Rahman terpilih sebagai presiden Majelis Umum PBB untuk sesi baru tersebut, menggantikan mantan menlu Jerman Annalena Baerbock.
Sesi kali ini mengusung tema “Memulihkan kepercayaan, mengelola transformasi: PBB yang memberikan hasil bagi semua”. Sesi Debat Umum UNGA dijadwalkan berlangsung pada 22-26 September, serta dilanjutkan pada 28 September.
