Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis tidak hanya memperkuat hubungan diplomatik kedua negara, tetapi juga menghasilkan capaian konkret yang berpotensi memberikan dampak jangka panjang bagi pembangunan ekonomi dan industri nasional. Dari lawatan tersebut, Indonesia berhasil mengamankan berbagai kesepakatan strategis dengan nilai mencapai sekitar US$3,5 miliar atau setara Rp61 triliun, mencakup sektor pertahanan, energi, pendidikan, hingga pengembangan teknologi industri masa depan.
Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat transformasi ekonomi nasional melalui kerja sama yang tidak lagi sekadar berorientasi pada perdagangan, melainkan juga transfer pengetahuan dan penguasaan teknologi. Pemerintah menilai pendekatan ini penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga mampu meningkatkan kapasitas industri dalam negeri dan memperkuat daya saing nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Salah satu capaian penting dalam kunjungan tersebut adalah pembentukan France-Indonesia High-Level Business Council (FI-HLBC) yang mempertemukan pelaku usaha utama dari kedua negara. Forum ini diharapkan menjadi jembatan strategis untuk memperluas investasi dan perdagangan bilateral. Dengan nilai perdagangan Indonesia-Prancis yang saat ini berada di kisaran US$2,6 miliar, kedua negara menargetkan peningkatan hingga tiga kali lipat pada tahun 2035 melalui penguatan kemitraan sektor industri, manufaktur, dan perdagangan modern.
Di sektor energi, PT Pertamina menjalin kerja sama dengan perusahaan teknologi energi global SLB atau Schlumberger untuk mengembangkan teknologi migas, digitalisasi berbasis kecerdasan buatan, peningkatan produksi energi domestik, hingga teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon. Langkah ini sejalan dengan agenda pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target transisi menuju ekonomi rendah karbon yang semakin menjadi fokus berbagai negara dunia.
Kerja sama Pertamina dengan perusahaan energi Prancis, TotalEnergies, juga diperluas ke berbagai sektor strategis mulai dari hulu migas, LNG, perdagangan energi, biofuel, energi terbarukan, hingga proyek kilang hijau dan pengembangan teknologi carbon capture. Kolaborasi tersebut dinilai dapat mempercepat pengembangan energi masa depan Indonesia sekaligus mendukung target swasembada energi yang selama ini menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo.
Sementara itu, di bidang pertahanan, kesepakatan antara Danantara melalui PT Len Industri dengan perusahaan pertahanan Prancis, Thales, membuka peluang besar bagi penguatan industri pertahanan nasional. Rencana pembangunan pabrik radar “Made in Indonesia” tidak hanya meningkatkan kemampuan teknologi dalam negeri, tetapi juga menciptakan efek berganda berupa peningkatan kualitas sumber daya manusia, transfer teknologi, serta penguatan ekosistem industri strategis nasional. Langkah ini melanjutkan arah kebijakan pemerintah yang menekankan pentingnya kemandirian alutsista melalui penguasaan teknologi, bukan sekadar pembelian produk jadi dari luar negeri.
Selain sektor industri dan pertahanan, kerja sama pendidikan juga menjadi perhatian utama dalam pembicaraan kedua negara. Pemerintah Indonesia mendorong perluasan kolaborasi di bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM) guna mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan ekonomi berbasis inovasi. Investasi pada pengembangan sumber daya manusia dipandang sebagai fondasi penting agar Indonesia mampu memanfaatkan berbagai peluang industri baru yang lahir dari kerja sama internasional tersebut.
Hasil kunjungan Presiden Prabowo ke Paris menunjukkan bahwa diplomasi ekonomi Indonesia kini semakin diarahkan pada penciptaan nilai tambah jangka panjang. Tidak hanya menghadirkan investasi bernilai besar, tetapi juga membuka akses terhadap teknologi, peningkatan kapasitas industri, serta penguatan kualitas SDM nasional. Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, langkah ini menjadi sinyal bahwa Indonesia terus memperluas kemitraan strategis untuk memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.
